<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Sosiologi on Isu Pernikahan Anak</title><link>https://isupernikahananak.com/tags/sosiologi/</link><description>Recent content in Sosiologi on Isu Pernikahan Anak</description><generator>Hugo</generator><language>id</language><lastBuildDate>Sat, 24 Jan 2026 16:45:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://isupernikahananak.com/tags/sosiologi/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Membedah Akar Budaya dan Tradisi di Balik Maraknya Pernikahan Anak</title><link>https://isupernikahananak.com/posts/budaya-pernikahan-dini/</link><pubDate>Sat, 24 Jan 2026 16:45:00 +0700</pubDate><guid>https://isupernikahananak.com/posts/budaya-pernikahan-dini/</guid><description>&lt;p&gt;Pernikahan anak tetap menjadi tantangan sistemik yang pelik di Indonesia, meskipun regulasi hukum telah memperketat batas usia minimal perkawinan. Fenomena ini bukan sekadar masalah angka statistik atau pelanggaran administratif, melainkan sebuah isu yang berakar jauh di dalam struktur sosial dan sistem nilai masyarakat. Di banyak wilayah pedesaan, pernikahan di bawah umur seringkali dipandang bukan sebagai masalah, melainkan sebagai solusi atau manifestasi dari kepatuhan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>